Resensi 2
III . Mawar Yang Mekar Sempurna (Hal. 29-37)
Mei Anastasia adalah mahasiswi jurusan komunikasi di Universitas swasta Jakarta. Ia masuk pada tahun yang sama dengan Sarif. Mei juga berasal dari Pontianak. Sarif mengetahu hal itu dan hal lain mengenai diri Mei ketika bertemu untuk pertama kalinya pada saat usai menghadiri pemutaran film pendek di pusat kebudayaan Jerman Jakarta di daerah Menteng. Mereka memiliki hal yang sama mengenai buku-buku, musik , film, dan pandang-pandangan mengenai hidup. Pada saat di Jakarta Mei bisa dikatakan sebagai sahabat Sarif. Saat Sarif di Pontianak , Mei menelpon Sarif untuk menanyakan novel yang Mei berikan sebelum Sarif berangkat ke Pontianak. Namun Sarif tak terlalu menanggapi pertanyaan Mei karena Sarif sedang bersama Nur saat itu. Dan dengan jelas Sarif berkata bahwa dirinya sedang bersama teman lamanya, sehingga obrolan Mei dan Sarif harus dihentikan.
Pada pertemuan kesebelas Nur dengan Sarif, Sarif telah menyiapkan sebuah kotak yang berisikan selembar puisi, setangkai bunga mawar asli, setangkai mawar sintetis, dan sekeping CD berisi lagu-lagu yang khusus ia pilihkan untuk Nur. Seumur hidupnya , ia tidak pernah melakukan hal itu kepada gadis lain.
Sekarang dihadapan Sarif seorang gadis yang ia bayangkan setangkai mawar yang telah sepenuhnya mekar. Saat Nur lengah, ia mengambil kotak yang sudah disiapkan, kemudian ia sodorkan kepada Nur. Ia menyatakan perasaan yang sudah lama ia pendam selama 4 tahun. Gadis didepannya tak bisa tampak lebih terkejut lagi. Nur terpaku. Suara air sungai kapuas mengiringi keheningan yang diciptakan oleh ucapan Sarif. Lalu dengan senyuman yang lebar, Nur menerima permintaan Sarif untuk menjadi kekasihnya, bahkan ia sudah menunggu pertanyaan itu sejak lama. Mawar yang mekar sempurna itu tersenyum kepada Sarif.
IV. Di Setiap Helai Daun Akasia (Hal 39-49)
Tocatta A Fuga D Moll BWV 565 pelajaran yang paling sulit. Nur mengumpulkan konsentrasinya kembali, mengeratkan pegangannya pada leher biola, lalu mulai menggesekan biola. Namun pada pertengahan lagu ia pun berhenti kembali dan merasa frustasi. Dan ia duduk sambil memangku biola itu. Nur teringat oleh kekasih barunya, Sarif. Kemudian ada seorang lelaki yang memanggil namanya dan membangunkan ia dari lamunannya. Lelaki itu duduk disamping Nur dan menanyakan hal yang membuat Nur frustasi. Lelaki itu adalah Jaka. Nur menceritakan semua apa yang ia rasakan. Kemudian Jaka memberikan nasihat agar Nur kembali bersemngat dan tidak menyerah pada mimpi yang ia impikan sejak kecil. Jaka ingin Nur sukses, agar ayah Nur bangga kepada Nur. Jaka adalah teman Ayah Nur semasa hidupnya. Jaka tahu, Nur sedang lelah, sehingga ia meminta Nur agar pulang lebih dulu dan memberitahu bahwa ada pertunjukan klasik yang terdapat Hendri Lamiri.
Pada saat keluar dari tempat les biola, Nur melihat seorang lelaki yang sedang menunggunya diluar. Ya, dia adalah Sarif Tizarudin. Sarif menghampiri Nur, dan berbincang di ruang tunggu. Nur mengajak Sarif untuk menemani Nur menonotn pertunjukan musik klasik. Tanpa ada tolakan, ia menyetujui untuk menemani Nur, karena Sarif pun menyukai musik-musik klasik.
Mereka berdua berjalan di trotoar di pinggir gedung pertunjukan. Daun-daun aksia berjatuhan tertiup angin dan langit terlihat hitam tanpa bintang. Sarif memberikan semangat kepada Nur agar ia mampu mewujudkan citan-citanya, agar ia mampu berjelajah mengikuti mimpinya. Sarif ingin ia memepercayai dirinya sendiri, Nur sebenarnya memiliki mutiara yang akan membuat ia terkenal. Sarif mengibartkan mimpinya sebagai daun akasia. Mimpi-mimpinya ada didalam daun akasia. Dia tidak akan membiarkan angin menjatuhkannya dan ia mengering dan hancur terinja-injak oleh kaki kaki manusia yang bahkan tak tahu arti sebuah mimpi.
V. Bulan Separuh Menggantung di Langit ( Hal 51- 67)
Jika bukan karena tak ada lagi pekerjaan yang bisa ia kerjakan untuk mengisi waktu luang dan paksaan Marwan Tizzzarudin , Sarif enggan untuk pulang ke Pontianak.Dan jika bukan karena Nur, ia sudah kembali ke Jakarta. Ia merasa tak ada yang bisa ia lakukan di Pontianak selain melakukan hal yang diperintahkan oleh ayahnya.
Pada saat Sarif dan sekeluarga makan bersama di ruang makan. Ayahnya menanyakan pekerjaan apa yang akan dilakukan oleh Sarif setelah lulus kuliah. Kemudian dengan lantang Sarif ingin menjadi penulis. Pernyataan itu tidak disetujui oleh ayahnya. Ayahnya ingin ia melanjutkan perusahaan ayahnya menjadi penjual kayu. Ada perdebatan hebat antara Sarif dan ayahnya. Sarif ingin tinggal di Jakarta dan usaha untuk menghasilkan uang. Kemudian pada akhir perdebatan ayah dan anaknya, Marwan meminta Sarif untuk menemui gadis dari anak temannya. Mereka akan berangkat ke rumah Koh Asiu, teman ayahnya.
Gadis yang dijodohkan oleh ayahnya adalah Mei. Mereka terkejut dan tidak mengetahui rencana kedua orang tua mereka. . Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal, menanyakan kabar, menanyakan rencana yang akan dilakukan kedepannya, menanyakan apa yang Sarif tulis sekarang, dll.Kemudian Sarif mengatakan bahwa rencana Sarif adalah Penghargaan Sastra Nusantara 2013. Menurutnya tidak ada hal yang tidak dapat dilakukan, selagi ia yakin akan hal itu. Mereka terlarut dalam obrolan yang menyenangkan. Tertawa pada suatu hal yang sepele. Kemudian mereka mendengarkan lagu pada earphino Mei. Melihat Mei kedinginan, Sarif melepaskan jaketnya untuk Mei. Mereka hanyut akan suasana itu. Mei meletakan telapak tangan diatas telapak tangan Sarif, dan tak lama Mei mencium pipi Sarif. Ada jeda saat ia membiarkan Mei memilikinya. Kemudian terlintas senyuman manis itu, senyuaman manis milik seorang gadis, Nur. Lalu Sarif pergi meninggalkan Mei sendiri.
Oleh
Nama: Nia Silva Komara
Kelas : XI MIPA 7
Sekolah: SMA Al- Ma'soem
Oleh
Nama: Nia Silva Komara
Kelas : XI MIPA 7
Sekolah: SMA Al- Ma'soem
Komentar
Posting Komentar