Resensi 3

VI . Impian (Hal. 69-82)

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Nur duduk di meja kecil yang berada di kamarnya. di meja itu pula tergeletak sebuah biola yang ia dapatkan dari ayahnya. Pada saat Nur mengangkat biola, ia mendapati sebuah amplop yang tak asing bagi Nur. Di bagian depan amplop tertuliskan "Schoolarship, Prelude International School. Jakarta". Nur ingat sekali bagaimana ia bisa mendapatkannya. Ia mengikuti tes sekolah musik yang diberitahukan oleh ayahnya.  Sekolah yang ia tuju berisikan orang-orang lulusan luar negeri. Ia sangat berusaha keras agar lolos audisi dan menerima beasiswa. Ia takut bahwa ia tidak akan lolos dalam audisi tersebut. Namun ayah, Joko, dan ibunya selalu memberikan support terbaik kepada Nur. Ayah Nur menjajikan sebuah biola yang ayahnya dapatkan dari Italia, ayahnya akan memberikan biola ketika Nur mendapatkan beasiswa itu. Saat Nur mendapatkan selembar amplop yang berisikan hasil dari audisi untuk mendapatkan beasiswa, hatinya berdebar kencang. Ia membuka amplop, keterangan dalam amplop itu bahwa ia mendapatkan beasiswa sekolahdi Jakarta. Ia sangat antusias untuk memberitahukan hal itu. Namun tak lama setelah membaca isi amplop, nur mendapati sebuah telpon. Telpon itu berasal dari ibunya yang memerintahkan Nur untuk segera ke rumah sakit.
 Sesampainya Nur di rumah sakit , ibunya memberitahu bahwa ayah Nur sudah pergi menghadap sang Illahi. Ayahnya meninggal karena kecelakaan tunggal. Ia dicuragai mabuk saat menyetir. Hati Nur sakit, hancur. Ibunya menghampiri Nur, lalu membuat janji agar Nur tidak meninggalkan ibunya sendiri. Amplop yang ia bawa terjatuh kelantai. Entah apa yang harus Nur lakukan pada saat itu, yang jels ia tidak akan meninggalkan ibunya. Ia meninggalkan mimpi yang telah diinginkannya sejak kecil. Mimpi Nur dan Abubakar.
 Dan sekarang Ibunda Nur jatuh terpapar sakit. Untuk bangun pun harus mengeluarkan banyak tenaga. Semakin yakin Nur untuk tidak meninggalkan ibunya. seharusnya surat itu telah dibuang sejak 4 tahun lalu.

VII. Adakah Cinta Yang Terlalu Cepat? (Hal. 85-94)

Sarif membuka beberapa koran, membola-balik halaman koran mencari-cari halaman puisi dan cerita pendek. Pada sebuah kolom, ia menemukan cuplikan tentang berita yang kata-katanya segera menangkap pembalakan liar. Seketika itu pula ia teringat oleh ayahnya. Pernah sekali ia diajak oleh ayahnya ke daerah pemotongan kayu milik ayahnya. Ia sedikit berdebat dengan ayahnya tentang pembalakan liar yang selama ini dilakukan oleh ayahnya. Ia tidak ingin melanjutkannya. Ia takut suatu saat nanti polisi akan menangkap ayahnya.
 Siang harinya, Sarif berangkat ke suatu tempat untuk bertemu Nur, sang pujaan hatinya. Sebelumnya memang sudah membuat janji. Nur membawa bubur pedas yang ia tawarkan sebelumnya. Bubur yang Nur bawa sangat membuat ketagihan Sarif. Kemudian Sarif menceritakan tentang kegelisahannya selama ini. Nur terkejut ketika mengetahui bahwa ayahnya sarif melakukan pembalakan liar selama ini. Namun Nur menenangkan Sarif bahwa itu tidak akan terjadi. Setelah berbincang lama. Nur memberikan sebuah gelang yang terbuat dari benang kepada Sarif.  Sarif mendapati telpon dari Mei. Mei mengajak Sarif untuk bertemu dengannya. Kemudian Nur mempersilahkan Sarif untuk bertemu dengan Mei.
 Sarif dan Mei bertemu pada suatu kafe milik Mei. Mei memberikan sebuah  map yang berisikan artikel-artikel yang ia dapatkan dari teman-temannya yang berada di Australia. Ia memberikan beberapa argumen tentang apa yang akan Sarif tulis untuk PSN. Mei melihat akserosis yang Sarif gunakan. Kemudian ia menanyakannya. Sarif menjelaskan bahwa gelang itu berasal dari pacarnya Nur. Tiba-tiba Sarif menanyakan "Adakah cinta yang terlalu cepat?"

VIII. Hanya Biru Pada Lautan (Hal. 97-109)

  Nur kembali ke tempat les. Saat menggesekan biola, Nur selalu teringat Sarif. Senyumannya yang tak pernah ia lupakan.  Ia sudah mengagumi Sarif sejak lama. Sarif adalah seorang lelaki yang dikagumi banyak wanita pada saat SMA. Sarif yang tak pernah meremehkan seseorang yang berada dibawahnya, walaupun ia mempunyai kekuasan untuk melakukannya. Kemudian muncul pikiran gadis yang kemarin Sarif temui, Mei. Siapakah Mei? Nur berusaha untuk berpikiran positif terhadap Mei. Setelah memainkan beberapa lagu, Nur memutuskan untuk pulang. Pada saat ia berkemas untuk pulang. Jaka menghampiri Nur, lalu ia menawarkan sNur untuk tampil pada saat Grand Opening. Kemudian Nur menyetujuinya.
  Satu minggu kemudian. Hari itu tiba, hari Nur kembali memainkan biola didepan orang yang tak dikenali. Di depan umum. Sarif yang diberitahu Nur sebelumnya datang, untung melihat kekasihnya tampil. Satu lagu telah dimainkan Nur. Penonton bertepuk tangan. Riuh sekali. Lagu kedua adalah "Ode to Joy" lagu yang pernah ayahnya mainkan untuk Nur. Ia ingat apa yang pernah dikatakan ayahnya. Ia perlu kesenangan dan kegembiraan untuk dapat menikmati dan memaknai hidup. Namun baru satu menit Nur memainkan "Ode to Joy" Ia melihat ada seorang perempuan yang mengahampiri Sarif. Perempuan itu tampak akrab, hingga mengkecup pipi Sarif. Nur mencoba mengembalikan konsentrasinya dengan memejamkan mata. Namun pada saat membuka matanya kembali, ia berharap bahwa perempuan itu pergi. Namun harapan Nur ternyata tidak terkabulkan. Perempuan itu masih ada disamping Sarif. Sejak perempuan itu datang, perhatian Sarif teralihkan oleh perempuan itu.

IX. Sorot Mata Yang Lain (111-122)

Keesokan harinya, Nur masih teringat tentang kejadian semalam. Setelah ia selesai bermain biola. Mereka berkumpul pada satu meja yang bulat. Sarif benar-benar terbawa oleh arus pembicaraan Mei. Sementara dirinya hanya berdiam diri bak patung yang tak berkata-kata.  Nur hanya menyimak pembicaraan mereka, tanpa ia pahami apa yang mereka bicarakan. Nur menyadari, beberapa kali Sarif berusaha keluar dari pembicaraan internalnya dengan mei dan melontarkan topik yang bisa diikuti oleh Nur, tapi Mei seakan tak mengizinkannya. Nur melihat bagaimana Mei melihat Sarif. Ada sorot mata yang lain. Nur mengenalinya. Karena ia pun melihat Sarif dengan sorotan itu. Kemudian Mei berpamitan kepada Nur dan Sarif. Nur melihat bagaimana Mei berpamitan, Mei mengecup pipi kiri dan kanan Sarif lalu tersenyum kepada Nur tanpa menyalaminya.
 Saat mengingat kejadian itu, telpon Nur bebunyi. Telpon itu dari Sarif. Sarif mengajak Nur untuk berjalan-jalan. Nur menyetujuinya. Namun Sarif tidak tahu tujuan dari perjalanan itu kemana. Akhirnya Nur memutuskan untuk pergi ke Rumah Rakdang. Kemudian Nur menceritakan pembuatan Rumah Rakdang itu. Saat berjalan di Rumah Rakdang mereka berbincang-bincang banyak. Lalu Sarif menceritakan bagaimana Mei bagi dia kepada Nur. Hatinya kembali hancur. ada kepingan yang jatuh. Sarif menceritakan bahwa Mei selalu memberikan inspirasi untuk Sarif, dan teman ngobrol yang sangat berharga. Nur hanya bisa terdiam. Sarif menanyakan kabar Nur. Nur hanya bilang tidak apa-apa. Sarif memberitahu Nur dia akan bertemu Mei setelah ia bertemu dengan Nur. Lalu Nur hanya menitipkan salam untuk Mei.
 Saat Sarif tiba di restoran. Restoran itu kosong, tak ada orang lain selain Mei yang sudah menunggu Sarif sedari tadi. Mei tampak beda. Mei memberitahu bahwa ia berhenti untuk menjadi penulis. Taka ada lagi inspirasi baginya untuk menulis. Sarif terkejut. Kemudian Mei menyatakan perasaan nya yang ia pendam sejak awal bertemu dengan Sarif. Mei kembali mencium bibir Sarif. Sarif kemudian mengehentikan itu. Sarif terheran-heran atas apa yang telah Mei lakukan kepadanya. Kemudian Mei mengatakan bahwa ia cemburu kepada Nur. Kemudian tanpa kata Sarif pergi meninggalkan Mei.

Komentar