Resensi 4
X. Ibarat Semua Pertempuran (Hal. 125-132)
Nur melangkah ke kamar sang ibudannya dan membawakan makanan kepada ibunya. Kemudian sang ibunda duduk di ranjang. Nur mmberikan makanan. Pada saat ibunya memakan makanan yang Nur berikan, ibu Nur nanya tentang kondisi Nur. Awalnya Nur bohong kepada ibunya , namun Nur tak dapat bohong kepada ibunya sebab ibunda dapat membaca pikiran seorang anaknya. Akhirnya Nur menceritakan keadaannya. Ibu bilang kepada Nnur bahwa didalam mata Nur ada kobaran api yang harus ia selesaikan. Ya api itu adalah Mei. Nur menceritakan tentang Sarif, kekasih baru Nur. Lalu ibunda bilang bahwa api yang dimiliki Nur harus dalam kendali nya, jangan memadamkan. Sebab api itu pertanda bahwa seseorang memiliki rasa takut kehilangan. kemudian mereka berpelukan sebagai tanda mereka saling menyanyangi. Lalu ibunda melihat biola, dan menanyakan kepada Nur " apakah Nur masih bermain biola?" . Nur terpaku, tak ada pilihan lagi selain berkata tidak. Sebab setelah ayahnya meninggal, saat ibunda pandangan ibu beda kepada biola. Dan ibu tidak suka saat Mei memainkan biola. Nur berkata bahwa ia tidak akan meningalkan ibunya. Kemudian ibu bilang bahwa pertempuran yang paling penting adalah bertempur dengan diri sendiri.
XI. Di Antara Rintik Hujan (Hal 135-145)
Hari itu adalah Selasa di bulan Juni , hujan turun cukup deras. Nur ditemani sang ibunda duduk di teras rumah sambil menikmati teh hangat. Lalu Sarif teringat ayahanya, Sarif menananyakan keberadaan ayah yang tidak pulang 3 hari. Kemudian mamanya memberitahu bahwa papanya sedang mencari masa depan untuknya. Emosi Sarif muncul, dan bilang bahwa dia tidak ingin menjadi pembalak liar seperti ayahnya. Sarif bilang bahwa papanya egois , papahnya tidak menuruti apa yang diimpikan oleh Sarif untuk menjadi penulis. Kemudian mamahnya bilang , yang mebolehkan Sarif unutk pergi ke Jakarta adalah papahnya, papahnya yang selalu menenangkan saat ibunya menangis dan khawatir kepada Sarif. Lalu mamahnya masuk, dan mengambil sebuah jurnal yang dimiliki ayahnya. Ibunya memberikan jurnal itu kepada Sarif. Sarif membuka jurnal itu. Dan ia terkejut saat melihat isi jurnal nya. Pada setiap lembarnya ada potongan koran yang berisi puisi yang Sarif buat. Ternyata papahnya selama ini mengumpulkan semua puisi dalam jurnanya tanpa ada satupun yang terlewat. Perkiraan Sarif tentang papahnya salah besar. Lalu ibunya menjelaskan bahwa , orang yang menghalangimu adalah orang yang memberikan support terbesar. Papahnya ingin Sarif sukses. Sarif menanyakan keadaan papah, ibunya meneceritakan keadaan papah yang sebenernya. Bisnis papahnya dalam keadaan darurat, oleh sebab itu papahnya jarag pulang kerumah.
Saat Sarif sedang melamun. Lamunannya tertuju kepada gadis yang selalu menari dalam pikirannya. ya, dia adalah Nuraini Abubakar. Namun entah kenapa , ada sosok perempuan juga yang sedang masuk dalam lamunan Sarif yaitu Mei. Ia ingat jelas tentang kejadian Mei mencium Sarif, ia masih bisa merasakannya. Saat ia melamunkan Mei, tiba-tiba HP nya bunyi, dan ternyata itu Mei. Mei meminta maaf kepada Sarif, dan meminta agar mereka berteman kembali layaknya dulu. Ia tiidak ingin memutus silaturahmi. Lalu ia mengajak Sarif untuk bertemu kembali, Sarif menolak, namun meyakinkan Sarif bahwa ia akan menjaga jarak.
Setelah sampai di cafe Mei, Sarif langsung mencari keberadaan Mei. Keadaan Mei, pakaiannya Mei berubah. Dan pada saat ia datang, biasanya Mei mencium kedua pipinya. Dan itu tidak terjadi. Mei memberitahu bahwa ia akan pergi ke Makasar. Mei mengajak Sarif untuk ikut bersamanya. Sarif menolak. Tapi Mei menjelaskan bahwa banyak penulis ternama yang akan hadir di acara itu, Sarif harus ikut. Akhirnya Sarif ikut.
XII. Ada Api di Meja Makan (Hal. 147-158)
Setelah berbicara dengan Mei. Sarif mengajak Nur untuk bertemu. Seperti biasa mereka bertemu di restoran di dekat Sungai Kapuas. Nur kaget saat Sarif memberitahu bahwa ia akan pergi bersama Mei ke Makasar. Api itu membara lagi. Ada sesuatu yang beda terhadap Nur. Tidak biasanya Nur seperti itu kepada Sarif. Sarif menanyakan hal itu. Lalu ia menebak Nur cemburu kepada Mei. Nur mempertanyakan kesungguhan cinta Sarif kepada Nur. Lalu tiba-tiba Sarif menelpon ibunya untuk dibuatkan makanan kesukan Sarif, sdan mengajak Nur untuk makan bersama. Ia akan membuktikan keseriusan cintanya.
Nur memberitahukan keadaanya yang cemas, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ibunya memberikan nasihat kepada Nur. Lalu mendadani Nur sebelum ia pergi ke rumah Sarif.
Di tempat makan tidak ada suara yang terdengar selain suara mengunyah yang terkesan ditahan-tahan. Hingga akhirnya ibunya Sarif yang menanyakan Nur tentang kuliahnya, keluarganya. Saat Nur bilang ia bekerja di les biola, tiba-tiba raut wajah Marwan Tizzarudin berbeda. Marwan menanyakan nama ayah Nur. Nur menjawab "Pangsuma Abubakar". seketika Marwan menyuruh Sarif agar mengantarkan Nur pulang. Dengan terpaksa Nur pulang dengan membawa pertanyaan yang mengganjal didalam hatinya. Kenapa dengan Marwan tizzarudin saat ia mendengar nama Ayahnya?
Nur melangkah ke kamar sang ibudannya dan membawakan makanan kepada ibunya. Kemudian sang ibunda duduk di ranjang. Nur mmberikan makanan. Pada saat ibunya memakan makanan yang Nur berikan, ibu Nur nanya tentang kondisi Nur. Awalnya Nur bohong kepada ibunya , namun Nur tak dapat bohong kepada ibunya sebab ibunda dapat membaca pikiran seorang anaknya. Akhirnya Nur menceritakan keadaannya. Ibu bilang kepada Nnur bahwa didalam mata Nur ada kobaran api yang harus ia selesaikan. Ya api itu adalah Mei. Nur menceritakan tentang Sarif, kekasih baru Nur. Lalu ibunda bilang bahwa api yang dimiliki Nur harus dalam kendali nya, jangan memadamkan. Sebab api itu pertanda bahwa seseorang memiliki rasa takut kehilangan. kemudian mereka berpelukan sebagai tanda mereka saling menyanyangi. Lalu ibunda melihat biola, dan menanyakan kepada Nur " apakah Nur masih bermain biola?" . Nur terpaku, tak ada pilihan lagi selain berkata tidak. Sebab setelah ayahnya meninggal, saat ibunda pandangan ibu beda kepada biola. Dan ibu tidak suka saat Mei memainkan biola. Nur berkata bahwa ia tidak akan meningalkan ibunya. Kemudian ibu bilang bahwa pertempuran yang paling penting adalah bertempur dengan diri sendiri.
XI. Di Antara Rintik Hujan (Hal 135-145)
Hari itu adalah Selasa di bulan Juni , hujan turun cukup deras. Nur ditemani sang ibunda duduk di teras rumah sambil menikmati teh hangat. Lalu Sarif teringat ayahanya, Sarif menananyakan keberadaan ayah yang tidak pulang 3 hari. Kemudian mamanya memberitahu bahwa papanya sedang mencari masa depan untuknya. Emosi Sarif muncul, dan bilang bahwa dia tidak ingin menjadi pembalak liar seperti ayahnya. Sarif bilang bahwa papanya egois , papahnya tidak menuruti apa yang diimpikan oleh Sarif untuk menjadi penulis. Kemudian mamahnya bilang , yang mebolehkan Sarif unutk pergi ke Jakarta adalah papahnya, papahnya yang selalu menenangkan saat ibunya menangis dan khawatir kepada Sarif. Lalu mamahnya masuk, dan mengambil sebuah jurnal yang dimiliki ayahnya. Ibunya memberikan jurnal itu kepada Sarif. Sarif membuka jurnal itu. Dan ia terkejut saat melihat isi jurnal nya. Pada setiap lembarnya ada potongan koran yang berisi puisi yang Sarif buat. Ternyata papahnya selama ini mengumpulkan semua puisi dalam jurnanya tanpa ada satupun yang terlewat. Perkiraan Sarif tentang papahnya salah besar. Lalu ibunya menjelaskan bahwa , orang yang menghalangimu adalah orang yang memberikan support terbesar. Papahnya ingin Sarif sukses. Sarif menanyakan keadaan papah, ibunya meneceritakan keadaan papah yang sebenernya. Bisnis papahnya dalam keadaan darurat, oleh sebab itu papahnya jarag pulang kerumah.
Saat Sarif sedang melamun. Lamunannya tertuju kepada gadis yang selalu menari dalam pikirannya. ya, dia adalah Nuraini Abubakar. Namun entah kenapa , ada sosok perempuan juga yang sedang masuk dalam lamunan Sarif yaitu Mei. Ia ingat jelas tentang kejadian Mei mencium Sarif, ia masih bisa merasakannya. Saat ia melamunkan Mei, tiba-tiba HP nya bunyi, dan ternyata itu Mei. Mei meminta maaf kepada Sarif, dan meminta agar mereka berteman kembali layaknya dulu. Ia tiidak ingin memutus silaturahmi. Lalu ia mengajak Sarif untuk bertemu kembali, Sarif menolak, namun meyakinkan Sarif bahwa ia akan menjaga jarak.
Setelah sampai di cafe Mei, Sarif langsung mencari keberadaan Mei. Keadaan Mei, pakaiannya Mei berubah. Dan pada saat ia datang, biasanya Mei mencium kedua pipinya. Dan itu tidak terjadi. Mei memberitahu bahwa ia akan pergi ke Makasar. Mei mengajak Sarif untuk ikut bersamanya. Sarif menolak. Tapi Mei menjelaskan bahwa banyak penulis ternama yang akan hadir di acara itu, Sarif harus ikut. Akhirnya Sarif ikut.
XII. Ada Api di Meja Makan (Hal. 147-158)
Setelah berbicara dengan Mei. Sarif mengajak Nur untuk bertemu. Seperti biasa mereka bertemu di restoran di dekat Sungai Kapuas. Nur kaget saat Sarif memberitahu bahwa ia akan pergi bersama Mei ke Makasar. Api itu membara lagi. Ada sesuatu yang beda terhadap Nur. Tidak biasanya Nur seperti itu kepada Sarif. Sarif menanyakan hal itu. Lalu ia menebak Nur cemburu kepada Mei. Nur mempertanyakan kesungguhan cinta Sarif kepada Nur. Lalu tiba-tiba Sarif menelpon ibunya untuk dibuatkan makanan kesukan Sarif, sdan mengajak Nur untuk makan bersama. Ia akan membuktikan keseriusan cintanya.
Nur memberitahukan keadaanya yang cemas, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ibunya memberikan nasihat kepada Nur. Lalu mendadani Nur sebelum ia pergi ke rumah Sarif.
Di tempat makan tidak ada suara yang terdengar selain suara mengunyah yang terkesan ditahan-tahan. Hingga akhirnya ibunya Sarif yang menanyakan Nur tentang kuliahnya, keluarganya. Saat Nur bilang ia bekerja di les biola, tiba-tiba raut wajah Marwan Tizzarudin berbeda. Marwan menanyakan nama ayah Nur. Nur menjawab "Pangsuma Abubakar". seketika Marwan menyuruh Sarif agar mengantarkan Nur pulang. Dengan terpaksa Nur pulang dengan membawa pertanyaan yang mengganjal didalam hatinya. Kenapa dengan Marwan tizzarudin saat ia mendengar nama Ayahnya?
Komentar
Posting Komentar