Resensi 5

XIII. Sebuah Peti dan Pikiran-Pikiran ( Hal. 161-171)

Sarif memikirkan tentang kejadian semalam. Mengapa Marwan tega untuk mengusir Nur. Iyah, Sarif mengerti jika ayahnya tidak mengizinkan dirinya untuk berpacaran, tapi Sarif belum bilang kepada ayahnya bahwa Nur adalah kekasihnya. Ya jika ingin mengusir setidaknya memberi tahu kepada Sarif tentang permasalahannya. Tidak bisakah Marwan bersikap baik kepada Nur. ,Mengapa Marwan membuat Sarif tidak enak hati kepada Nur? Saat memikirkan kejadian semalam itu, di ruang tamu ada seorang ayah yang duduk . Sarif memberanikan diri untuk menanyakan hal yang terjadi semalam. Sarif berterus-terang kepada Marwan bahwa dirinya mencintai wanita itu. Namun ayahnya langsung melarang Sarif untuk mencintai wanita itu. Ayahnya hanya memperbolehkan ia dengan Mei. Marwan telah menjodohkan Sarif dengan Mei, dan menurut Marwan hanya Mei yang layak dengan Sarif. Namun Sarif mengelak keinginan ayahnya, sebab Sarif dengan Mei hanyalah sebtas teman. Ayahnya Menjelaskan bahwa Koh Asiu atau ayahnya Mei telah banyak membantu keluarga mereka. Ayahnya sangat tidak mengizinkan Sarif dengan Mei. Ayahnya mengizinkan Sarif dengan Mei ataupun mencari wanita lain yang layak selain Nur.
 Sarif bercerita tentang keadaan semalam kepada Mei. Kemudian Mei menebak bhawa ayah Sarif dan ayah Nur berteman . Namun Sarif bingung, jika mereka berteman mengapa ia tidak pernah melihat ayahnya menemui ayah Nur. Sarif mengira ada yang aneh antara ayah Nur dan ayah Sarif. Kemudian Mei mengalihkan pembicaraan yang berawal membicarakan kejadian semalam, menjadi rencana yang akan dilakukannya ke Makasar bersama Sarif.
Saat pulang ke rumah. Sarif menanyakan tentang hubungan antara ayah Sarif dan ayah Nur. Namun mamah nya tak mau banyak bicara. Mamahnya menyuruh Sarif untuk menanyakan langsung kepada ayahnya.
Mei sudah menyiapkan segalanya. Mei sudah memesan tiket ke Makasar untuk mereka berdua. Ada keraguan yang dirasakan oleh Sarif, dia pun tak mengerti. Mei Anastasia. Mereka akan menginap 2 hari bahkan bisa jadi lebih, di satu hotel yang sama tetapi tidak satu kamar. Sarif kembali memikirkan Nur. Mungkinkah keraguan itu disebabkan oleh Nur?

XIV. Rahasia Masa Lalu Dua Orang Lelaki (Hal. 173-182)

Nur memasuki kamar ibunya. Lalu duduk di lantai. Nur meletakan kepala di paha ibunya. Kemudian ia menangis. Ia telah kalah dalam berperang, ucap Nur kepada ibunya. Lalu ibunya menanyakan tentang kondisi Nur. Nur menceritakan kejadian yang ia alami semalam. Ia menceritakan bahwa ayahnya Sarif mengusir, setelah ia menyebutkan nama ayah Nur. Ibunya menanyakan nama panjang kekasihnya. Kemudian Nur menjawab Sarif Tizzarudin. Tizzarudin, ia berusaha untuk mengingat nama itu, Marwan Tizzarudin. Ibunya menyuruh Nur untuk berjalan-jalan di jalanan komplek. Saat berjalan kaki di dalam komplek, ibunya mulai menceritakan tentang kejadian antara ayah Nur dan ayah Sarif. Mereka dulu bersahabat, hanya Marwan lah Sahabat satu-satunya yang dimiliki ayah Nur. Aawalnya Marwan adalah orang yang baik, mereka menjalin hubungan sebagai sahabt lancar tanpa ada masalah. Marwan lah yang mendorong ayah Nur untuk mengikuti industri musik. Marwan yang memberikan modal kepada ayah Nur agar ia sukses. Sampai ketika Marwan main kayu. Ayah Nur melarang Marwan untuk melakukan pembalakan liar.. Namun saran ayah Nur ditolak oleh Marwan.  Marwan datang ke rumah Pangsuma Abu Bakar lalu bertengkar hebat. Setelah kejadian itu, ayah Nur hanya melamun di depan teras. Kemudian pergi entah kemana. Hinga keesokan harinya ada kabar bahwa ayah Nur mengalami kecelakaan. Ayah Nur tidak mengalami kecelakaan tunggal. Jelas ibunya kepada Nur. Nur tak sanggup lagi untuk menahan air matanya.  Ia memeluk ibunya. Tak ada layang-layang lagi di angkasa.

XV. Sebuah Pesan di Bawah Rembulan (Hal. 185-194)

Perjalanan ke Makassar dilalui dengan banyak pertanyaan. Namun, Sarif berusaha untuk mengubur pertanyaan itu untuk sementara. Sebab ia ingin menikmati kunjungannya ke Makassar. Ia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam acara-acara menarik di festival. Sarif menyadari, bahwa ada seorang gadis yang sedang duduk di sampingnya. Kemudian Mei menanyakan tentang tadir kenapa mereka bertemu. Mei tidak mengira akan dipertemukan dengan orang sengotot Sarif tentang suatu impian. Setelah berbincang dengan Mei, pikiran Sarif kembali memikirkan Nur. Ini akan baik-baik saja. Ucap Sarif dalam hati.
*
Saat Sarif mengantarkan Nur sesuai makan malam yang tidak menyenangkan itu. Sarif meminta maaf tentang kejadian itu. Nur menanyakan perasaan Sarif kepada Mei. Sarif menjelaskan kepada Nur bahwa ia menyukai Mei karena pemikirannya. Sarif meyakinkan bahwa sarif sangat mencintai Nur, Mei hanyalah teman bagi Sarif. Sarif memberitahu bahwa besok ia akan pergi bersama Mei ke Makassar. Sarif mengatakan bahwa tidak akan ada apa-apa , dan Nur tidak boleh khawatir kepada Sarif. Nur hanya diam. Lalu Nur mengatakan bahwa ia takut kehilangan Sarif. Kemudian Sarif mencium bibir Nur. Mereka menikmati itu, suasana pun mendukung mereka. Tangan Nur melingkari tubuh Sarif. Setelah mengakhiri ciuman itu, Sarif kembali meyakinkan Nur bahwa Nur tidak akan pernah kehilangan Sarif.
*
Hari pertama dan kedua berlangsung lancar dan meriah dengan penuh acara untuk berdiskusi. Sarif menanyakan sekaligus memberi saran untuk menuliskan sesuatu yang berasal dari tanah kelahiran. Sarif terinspirasi dari festival itu, kebanyakan penulis yang menampilkan karya mereka menulis tentang Tanah asal mereka. Namun tidak tertarik untuk menulis tentang Pontianak, ia lebih tertarik menulis tentang Jakarta.
Diatas panggung puisi-puisi dibacakan maupun dinyanyikan. Semakin malamsemakin ramai. Kemudian ponsel Sarif bergetar, dan itu pesan terkahir yang Nur berikan kepada Sarif agar Sarif tidak menghubungi Nur lagi.

XVI. Ayah (Hal. 197- 207)

Nuraini Abubakar tepaksa mengirim pesan itu kepada Sarif karena apa yang terjadi pada hari kemarin.
*
Nur dan sang Ibunda berjalan pulang. Sesampainya di rumah. Ibunda mengajak Nur ke kamarnya. Ibu itu membuka pintu lemari dan mengeluarkan kotak besar yang tersimpan dibawah pakaian-pakaian yang bergantung. Kotak itu berisi sebuah biola. Biola itu adalah Ceremona yang dijanjikan ayahnya untuk diberikan kepada Nur ketika Nur mendapatkan beasiswa di Jakarta. Ayah Nur menitipkan biola itu untuk diberikan kepada Nur. Ayah Nur selalu ingin kamu memiliki biola ini.   Ibunya meminta maaf karena telah menghalangi Nur untuk mengejar cita-citanya. Ibunya memaksa Nur agar tetap tinggal bersamanya. Ibunya tahu arti biola bagi Nur. Ibunya tahu tentang amplop itu. Amplop yang berisi pengumuman Nur mendapkan beasiswa itu. Namun ibunya tidak merestui hubungan Nur dan Sarif. Ia meminta Nur agar menghentikan hubungan itu. Ibunya tidak ingin berhubunhan kembali dengan keluarga Marwan Tizzarudin. Nur tidak dapat menerima permintaan ibunya dengan mudah, ia mengelak. Namun ibunya mengusir Nur agar keluar dari kamar ibunya. Pikiran Nur berkompromi. Akhirnya Nur mengirimkan pesan itu. Pesan yang menusuk hatinya. Setelah mengirimkan pesan itu, hp nya selalu berbunyi danhanya satu nama yang terus menerus mencoba menghubunginya.
Keesokan harinya, Nur kembali mengajar sebagai guru privat. Anak itu atau dipanggil Abby, memandangi Biola Nur dan memuji bahwa biola itu sangat bagus. Kemudian Nur pun kembali memuji biola Abby. Abby bilang, jika Nur bermain memakai biola itu pasti akan menjadi juara .
Setelah mengajarkan Abby, Nur pergi untuk menuju kelas musik Jaka. Sesampainya Nur di kelas musik itu, Jaka memberitahu bahwa ada penangkapan kasus illegal logging yang dilakukan oleh calon walikota. Nur langsung terpikir kepada Marwan Tizzaruddin. Dan benar saja , Marwan Tizzarudin telah ditangkap oleh polisi akibat kasus itu. Nuur memikirkan kondisi Sarif. Ia ragu untuk memberitahunya atau tidak.

XVII. Satu Pertemuan Terakhir ( Hal. 209-214)

Sarif berpikir ia harus menemui Nur. Ia memiliki banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Nur. Sarif menceritakan tentang kandasnya hubungan Nur dengan Sarif. Mei menenangkan Sarif, dengan berkata bahwa mungkin Nur sedang PMS. Sarif ingin memesan tiket pulang ke Pontianak. Sesaat kemudian ponsel Sarif berbunyi . Ia berharap telpon itu berasal dari Nur, namun ternyata itu berasal dari Mamahnya. Yang di takutkan Sarif selama ini terjadi juga. Ayah Sarif tertangkap atas tuduhan pembalakan liar. Dua truk penuh muatan kayu potong tanpa surat izin resmi, dan sopir mengakui bahwa itu milik Marwan Tizzarudin. Setelah pembicaraan di telepon usai. Sarif langsung memesan tiket pulang.
Saat tiba di Pontianak Sarif langsung menelpon Nur dan mengajak Nur untuk bertemu. Nur menyetujui permintaan Sarif. Dengan permintaan bahwa itu pertemuan terakhir Sarif dan Nur. Saat Nur dan Sarif duduk berdua , Nur mengucapkan bela sungkawa atas kejadian yang menimpa ayah Sarif. Sarif pun mulai menanyakan tentang mengapa Nur memutuskan Sarif. Sarif menyatakan bahwa dirinya sangat mencintai Nur. Nur mengatakan bahwa dirinya dengan Sarif memiliki banyak perbedaan. Nur menceritakan tentang ayah Nur dan ayah Sarif dengan selengkap mungkin, berussha tidak ada yang dikurangi maupun dilebih-lebihkan. Nur mengucapkan bahwa Sarif lebih cocok dengan Mei. Namun Sarif menolak itu, ia hanha menginginkan Nur. Kemudian Nur menyuruh Sarif untuk pergi. Dengan rasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Sarif meninggalkan Nur.

XVIII. Mundur (Hal 217-220)

Tidak adakah hubungan yang baik jika hanya satu orang yang berjuang, pikir Mei. Kini kesempatannya untuk mendapatkan lebih besar. Dan Mei tersenyum ketika Sarif menanyakan keberadaannya, Sarif ingin bertemu dengan Mei. Hati Mei bergembira, saat yang ditunggu-tunggu kini terjadi juga. Dua puluh menit kemudian, Sarif tiba di restoran milik Mei. Mei memberikan nasihat bahwa selalu ada yang lebih baik. Sarif masih tidak percaya Nur mengakhiri hubungan mereka. Menurut Mei Nur benar , Sarif layak untuk mendapatkan yang lebih baik. Namun Sarif hanya menginginkan Nur. Sarif belum pernah jatuh cinta. Sarif menjelaskan bahwa ada sesuatu di diri Nur yang Nur sendiri tidak dapat meilhatnya. Ada mimpi yang besar yang Nur bungkus. Sarif mencintai Nur karena Nur lebih hebat dari dirinya. Setelah Mei mendengar penjelasan itu, ia memperoleh perasaan nyeri yang sangat. Kini dirinya tahu mengapa Sarif sangat mencintai Nur. Mei mengubah semua rencana-rencananya. Ia mundur.

 

Komentar