Resensi 6

XIX. Api Lain yang Belum Padam (223-231)

Setelah mengakhiri hubungan Nur dengan Sarif, Nur merasa hari-harinya sedih dan sendu. Sarif benar-benar tidak menghubunginya lagi. Ia benar-benar pergi dari kehidupan Nur seperti yang Nur minta. Nur kembali mengajar sebagai guru privat. Yang akan mengajar Abby, gadis kecil yang imut. Saat dirinya hanya berdua dengan Abby. Abby tampak bosan dan menyerah. Kemudian Nur memberikan semangat untuk Abby dengan cara memuji Abby adalah anak yang lucu. Nur bilang jika ingin semangat bermain maka Abby harus mengingat mimpi Abby. Abby ingin menjadi seperti Nur, sebab Nur cantik,pintar, jago bermain biola. Kemudian ada percikan kebahagian di dalam hati Nur.
 Saat Nur hendak menggesekan busurnya , hp Nur berbunyi dan itu dari Jaka. Jaka berkata bahwa ada seorang wanita yang mencari Nur, dia bernama Mei. Sontak hati Nur kaget, seperti ada api yang kembali menyala.
Di ruang tunggu, Nur dan Mei duduk berhadapan. Mei menatap lurus ke Nur, namun sedari tadi Nur hanya tertunduk. Setelah saling bertegur sapa, 10 menit kemudian keduanya saling tidak angkat bicara. Mei meminta maaf kepada Nur, tentang Sarif. Ia dengan Sarif hanya sebatas teman. Nur hanya diam saja. Kemudian Mei menjelaskan bahwa selama di Makassar Mei dan Sarif tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Justru setiap harinya Sarif selalu menceritakan kamu dan mencemaskanmu. Lalu Mei jujur kepada Nur bahwa dirinya suka kepada Sarif sejak pertama bertemu, sebab hanya Sarif satu-satunya yang datang kepada Nur dan meminta untuk menjadi teman Mei. Hanya Sarif yang mejadi teman Mei sesungguhnya. Mei datang menemui Nur hanya ingin mengatakan bahwa beberapa minggu lalu Sarif mengobrol dengan Mei di restoran Mei. Dan dia menceritakanmu. Dia menanyakan mengapa Nur memustukan nya?. Nur menjawab kepada Mei dengan ragu. Dirinya merasa tidak pantas . Mei tertawa, dan bilang bahwa semua yang dimiliki Mei saat ini adalah uang ayahnya. Restoran itu ayahnya yang memberikan modal. Bahkan Mei iri dengan Nur yang mampu hidup mandiri, dan mengahsilkan uang sendiri. Mei memuji Nur dengan mengatakan bahwa Nur adalah gadis yang hebat. Kobaran api itu entah menjadi padam. Dan kini Nur sudah menanggap Mei sebagai temannya. Sebelum pergi Mei mengatakan bahwa, Marwan Tizzaruddin sedang membutuhkan uang dengan jumlah yang banyak untuk meringankan hukuman yang akan diberikan oleh hakim. Kemudian setelah mengatakan itu, Mei pamit kepada Nur.

XX. Untuk Seorang Kawan Lama (Hal. 233-240)

Sarif , ayahnya, ibunya kumpul di ruang tamu. Memikirkan jalan solusi untuk ini. Marwan Tizzarudin meminta maaf kepada Sarif lalu memeluknya erat. Tak ada yang meminjamkan uang kepada Marwan. Bahkan mobil yang di bagasi adalah milik orang lain. Marwan mengalami bangkrut akibat melakukan kampanye. Satu jam yang lalu Sarif mendapatkan pesan dari Nur. Dian akan datang ke rumah Sarif. Seteah itu, terdengar suara ketukan, ketika Sarif membukanya itu adalah Nur. Sarif mengajak Nur masuk sebab Nur mencari ayahnya. Nur memberikan tas yang ia bawa. Itu berasal dari sahabatnya. Saat dibuka isi tas tersebut adalah uang. Marwan menolak itu. Namun Nur tetap memberikan itu. Itu hasil penjualan biola ceremona yang dimiliki Pangsuma Abubakar. Marwan menangis dan meminta maaf atas perbuatannya kepada Nur. Nur percaya bahwa saat ayahnya Nur masih hidup, ia pun akan melakukan hal yang sama demi sahabatnya. Sahabatnya membutuhkan ia, begitupun ia membutuhkan sahabatnya. Kemudian Nur berpamitan kepada Sarif, Marwan, dan Laila ibunya Sari. Walaupun Marwan menolak tetap saja Nur menyimpan tas itu.

XXI. Memulai Mimpi Lagi (Hal. 243-254) 

Walupun ia tidak menyelamatkan cintanya sendiri, setidaknya ia telah menyelamatkan cinta orang yang dicintainya. Itulah yang dipikirkan Nur pada saat menjual ceremona itu. Ia menginginkan ceremona itu sejak ayahnya masih hidup. Kejadian beberapa bulan itu ia sangat diingat oleh Nur , setelah berpamitan dan meninggalkan tas . Nur meminta maaf kepada Sarif di beranda. Nur menceritakan semuanya kepada ibunya tentang ia menjual ceremona, menemui Marwan di rumahnya, dan memberikan uang hasil penjualan ceremona itu.  Ibunya menyadari bahwa kecelakaan itu adalah musibah yang menimpa Pangsuma . Itu terjadi secara alamiah, hanya saja Truk Marwan bersama Mobil Pangsuma. Ibunya meminta maaf bahwa ibunya telah menghalangi Nur mengejar mimpinya. Ibunya tampak sehat dari ke hari. Itu membuat perasaan Nur lega.
Saat kembali ke sekolah musik Jaka, Nur menceritakan tentang apa yang telah dilakukannya. Jaka tak habis pikir kepada Nur, mengapa ia menjual ceremona padahal ia sendiri sangat menginginkannya.  Kemudian Jaka mengajak Nur untuk bekerja di sebuah restoran milik temannya. Ketika NNur menggesekan biolanya, HP Nur berbunyi, itu telpon dari Sarif. Sarif mengajak Nur untuk bertemu.
Sarif menceritakan semuanya tentang Nur kepada Marwan. Marwan lebih memilih untuk di vonis daripada menerima uang itu. Sebab uang itu milikmu Nur. Marwan tidak ingin menerima itu. Lalu Sarif bercerita tentang kamu mendapatkan beasiswa sekolah musik di Jakarta. Marwan merasa sedih karena Nur tidak dapat mengikuti beasiswa itu. Akhirnya Marwan menelpon temannya yang di mengajar sekolah musik di Jakarta. Sarif menyuruh Nur pergi jauh untuk menemukan hal yang baru. Nur kembali meminta maaf kepada Sarif. Ia jujur kepada Sarif bahwa dirinya sangat membutuhkan Sarif, ia sangat mencintai Sarif. Sarif tidak pernah mendengar Nur sejujur itu mengungkapkan isi hatinya kepada Sarif. Lalu Nur mendekatkan diri dan mencium bibir Sarif. Mereka terbawa suasana aliran Sungai Kapuas.
Seminggu kemudian, Sarif duduk di kursi menyaksikan Nur kembali bermain biola. Ia ditemani wanita yang tak asing di hidup Sarif, ia adalah Mei. Sekarang Nur terkenal dan banyak orang yang meneriaki namanya. Setelah memainkan beberapa lagu, Nur turun menghampiri Sarif dan Mei. Setelah ia turun, suara penonton semakin bergemuruh seperti ada idola yang datang ke kafe itu. Dan ternyata benar ada Hendri Lamiri datang ke kafe tersebut.  Sarif memberikan semangat kepada Njr untuk mengikuti beasiswa itu. Sarif yakin bahwa Nur akan menang.

Epilog 

Nur dan Sarif kembali lagi di Bandara . Seperti 4 tahun lalu diantara mereka akan ada yang ditinggalkan dan ada yang meninggalkan. Nur berpamitan kepada Sarid dan berharap ia akan lolos dalam beasiswa itu. Sarif akan sangat merindukan Nur. Sarif berdiri menyaksikan gadisnya pergi. Kini pertanyaan -pertanyaan Sarif telah terjawab. Sarif tidak ingin mengulangi kesalahannya kembali. Kemudian Sarif berteriak " Nur, i love you". Nur tersenyum dan membalas "I love  you too." 

Komentar