Resensi Novel : Jika Aku Milikmu
Identitas Peresensi:
Nama: Nia Silva Komara
Kelas: XI MIPA 7
Sekolah : SMA Al-Ma'soem Bandung
Identitas Buku:
Judul Buku: Jika Aku Milikmu
Penulis: Bernard Batubara
Jumlah Halaman: 258 halaman
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-979-780-839-6
Tanggal Baca: 18 Maret 2020
Judul bab yang dibaca: Fantaisie- Impromtu, Chopin, Desir-Desir ( hal 1- 26)
Prolog (1-2)
Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk yakin bahwa dia benar-benar sedang jatuh cinta?Pertanyaan itu selalu mengusik pikiran sarif beberapa bulan ini. Dan tampaknya pikiran itu semakin menguat dikala ia memandangi wajah gadis yang berada di hadapannya. Ia dan gadis tersebut berdiri di area luar pintu keberangkatan Bandar Udara Supadio, Pontianak. Mereka bak patung yang hanya berdiam diri saling memandangi satu sama lain, mereka acuh terhadap orang-orang yang berkerumun disekitar mereka. Bandara adalah tempat merekam perpisahan dan kesesihan paling tulus , dan sarif akan melakukan perpisahan kepada gadis yang berda dihapannya. Gadis itu adalah Nur.
Sarif mengucapkan terimakasih karena Nur telah mengantarkannya sampai Bandara. Nur hanya melebarkan senyumannya. senyuman yang tak asing lagi bagi Sarif. Nur menutupi kekecewaannya dengan senyumannya, sebab bukan kalimat itu yang ia harapkan keluar dari Sarif.
Gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya tahu persis apa yang telah ia lakukan. Ia harus membuat pengakuan. Ia harus mengungkapkan perasaan yang telah lama ia pikirkan dan ia pertimbangkan selama ini, sehingga kebimbangan dan keraguan telah menjadi bagian dari dirinya. Ada banyak hal yang membuat ia ragu . Beragam pertanyaan membuat ia gusar: apakah ini terlalu cepat? Apakah gadisnitu orang yang tepat? Jika cinta ini dimulai, seberapa lama ia akan bertahan? Apakah jika mereka memutuskan untuk menjalin hubungan , mereka akan menjadi pasangan yang baik?.
Apakah perasaan ini benar-benar cinta, atu hanya sesuatu menyerupai cinta?
Keduanya pun tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
Fantaisie- Impromptu, Chopin (5-17)
Beberapa tahun kemudian Sarif pulang ke kota kelahirannya , Pontianak. Sarif mengendarai mobil sendiri. Ia kira Pontianak tidak akan sama seperti Jakarta. Tapi ternyata sama saja Pontianak pun macet. Melirik ke spion kiri , Sarif menepikan mobil lalu berhenti. Belum apa-apa kepalanya sudah terasa tegang. untung saja ada penyelamat, "Fantasie-Impromptu" dari Chopin , mengalun dengan lembut pada tape mobil.
Sesampainya ia di gedung tempat pameran berlangsung. Ia melangkahkan kaki , bergegas menuju vennue. Ponsel Sarif berbunyi untuk kesekian kalinya. Ia tidak mengacuhkannya , ia tetap berjalan. Hingga kemudian ada seorang laki-laki bertubuh besar dan tegap melangkah ke arahnya. Dari suara langkahnya saja , tanpa melihat Sarif sudah tahu siapa yang menghampirinya. Marwan Tizzarudin.
Kemudian setelah berbicara sebentar dengan Sarif, Marwan meninggalkan Sarif bersama wartawan yang sudah lama menunggunya. Wartawan tersebut akan mewancarainya tentang ayahnya yang mencalonkan diri untuk menjadi walikota. Setelah selesai, wartawan itu menyalaminnya. Kemudian Sarif berjalan ke stan-stan lain.
Kemudian langkah Sarif terhenti pada salah satu stan. Ia meneganali wanita yang berdiri di salah satu stan tersebut. Dia tampak serius membacanya. Kemudian ia menyapa "Nur". Dan benar saja apa yang ia duga , gadis itu adalah Nur. Gadis itu terdiam sejenak, hingga akhirnya melebarkan senyumannya. Senyuman yang Sarif rindukan.
***
Saat itu Sarif terbawa akan ingatannya tentang masalalu pada saat ia pertama kali dekat dengan Nur.
Mereka pada saat SMA mengikuti ekstrakulikuler yang sama yaitu jurnalistik. Kemudian mendapat tugas untuk melakukan liputan tentang perayaan Imlek. Nur sebagai junior lalai dalam melaksanak tugasnya sebagai fotografer , sehingga merepotkan Sarif yang bertugas untuk mewancarai narasumber.
Seingatnya, dahulu ia tidak memiliki perasaan kepada gadis yang masih duduk dibangku kelas X, sedangkan ia menduduki kelas XII. Namun ia ingat sejak kejadian malam itu , ia tak dapat melihat dan memandangi Nur dengan cara dan perasaan yang sama.
Saat itu, Nur dan Sarif duduk bersisian diatas bangku kayu berwarna putih yang mengelupas. Mereka berbincang tentang pekerjaan yang harus dilakukan selanjutnya. Kemudian Sarif melihat sebuah kotak yang ditenteng Nur Dan sekarang berada dipangkuannya. Lalu ia menanyakan tentang isi yang ada di dalam kotak itu. Nur menjawab ,isi kotak itu adalah Biola.
Dengan nada isengnya, Sarif meminta Nur untuk memainkan Biola itu. Nur menuruti apa yang dipinta Sarif. Kemudian Ia membawakan lagu Fantaise-Impromptu in C-Sharp Minor. Entah mengapa walaupun Sarif tidak tahu lagu itu, namun Sarif sangat menikmati bak terkena sihir . Beberapa saat mungkin ia sudah merasakan hipnotis.
***
Memori tentang Imlek 4tahun yang lalu itu telah membuat Sarif tak pernah lagi mengingat Nur dengan cara yang sama.
Sarif merasakan hangat yang tidak biasa, menjalar dari matanya yang melihat wajah Nur yang damai, dari telinganya yang mendengar gesekan biola, dari angin sore hari yang merambat di tengkuknya. Ya , ia telah jatuh cinta. Mereka tahu bahwa diantara mereka telah ada sesuatu yang lebih dari sekedar hubungan karib. Meskipun begitu , rasa dekat itu tidak mencukupi untuk membuat Sarif berani mengucapkan yang sebenernya ingin ia ucapkan kepada Nur. Yaitu kalimat " Aku menyukaimu"
Desir- Desir (19-26)
Kedatangan Sarif ke Pontianak tidak diketahui oleh Nur. Dan dengan sengaja Sarif tidak memberitahu Nur. Untuk alasan-alasan tertentu, ia ingin membiarkan pertemuannya terjadi secara alamiIa seorang pemuda yang yakin pada kekuatan sebuah usaha keras, tetapi perihal cinta atau perasaan-perasaan sejenisnya , ia termasuk percaya kepada takdir.
Beberapa saat lalu karena tidak merasa cukup dengan basa-basi yang singkat dan menginginkan percakapn yang lebih , Sarif mengajak Nur ke sebuah coffe shop di dalam mal. Mereka berjalan bersamping-sampingan menyusuri koridor mal. Mereka hanya mengeluarkan sedikit kata untuk berbicara satu sama lain. Setelah berada di dalam coffe shop, mereka mengambil tempat di kursi kosong, lalu memesan minuman.
Nur memulai percakapan mereka dengan menghentikan lamunan Sarif. Sudah biasa Sarif melamun. Ujar Nur. Nur menanyakan perihal kedatangan Sarif. Entah kenapa Sarif begitu dingin kepada Nur.
Kemudian mereka berbincang, apapun mereka perbincangkan, mulai dari ayah Sarif yang menyalonkan diri sebagai walikota, perkembangan kuliah Nur, rencana kerja Sarif, hingga gedung sekolah mereka dulu mereka jadikan topik perbincangan. Mereka membicarakan masa lalu mereka.
Dua kali Sarif menyebut kata "cantik" kepada Nur , dan ia tidak tahu mengapa kata itu keluar dari mulutnya. Mungkin ia terlalu terpesona melihat kecantikan Nur .
Untuk sesaat , tanpa satupun dari mereka saling menyadari , keduanya saling bersetatap. Hanya sejenak , tetpi pertemuan pandangan yang untuk sesaat itu sudah lbih dari cukup untuk membuat keduanya merasakan desir-desir yang bertahun-tahun lalu pernah ada di dada mereka.
Komentar
Posting Komentar