Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Resensi 6

XIX. Api Lain yang Belum Padam (223-231) Setelah mengakhiri hubungan Nur dengan Sarif, Nur merasa hari-harinya sedih dan sendu. Sarif benar-benar tidak menghubunginya lagi. Ia benar-benar pergi dari kehidupan Nur seperti yang Nur minta. Nur kembali mengajar sebagai guru privat. Yang akan mengajar Abby, gadis kecil yang imut. Saat dirinya hanya berdua dengan Abby. Abby tampak bosan dan menyerah. Kemudian Nur memberikan semangat untuk Abby dengan cara memuji Abby adalah anak yang lucu. Nur bilang jika ingin semangat bermain maka Abby harus mengingat mimpi Abby. Abby ingin menjadi seperti Nur, sebab Nur cantik,pintar, jago bermain biola. Kemudian ada percikan kebahagian di dalam hati Nur.  Saat Nur hendak menggesekan busurnya , hp Nur berbunyi dan itu dari Jaka. Jaka berkata bahwa ada seorang wanita yang mencari Nur, dia bernama Mei. Sontak hati Nur kaget, seperti ada api yang kembali menyala. Di ruang tunggu, Nur dan Mei duduk berhadapan. Mei menatap lurus ke Nur, namun sedari ...

Resensi 5

XIII. Sebuah Peti dan Pikiran-Pikiran ( Hal. 161-171) Sarif memikirkan tentang kejadian semalam. Mengapa Marwan tega untuk mengusir Nur. Iyah, Sarif mengerti jika ayahnya tidak mengizinkan dirinya untuk berpacaran, tapi Sarif belum bilang kepada ayahnya bahwa Nur adalah kekasihnya. Ya jika ingin mengusir setidaknya memberi tahu kepada Sarif tentang permasalahannya. Tidak bisakah Marwan bersikap baik kepada Nur. ,Mengapa Marwan membuat Sarif tidak enak hati kepada Nur? Saat memikirkan kejadian semalam itu, di ruang tamu ada seorang ayah yang duduk . Sarif memberanikan diri untuk menanyakan hal yang terjadi semalam. Sarif berterus-terang kepada Marwan bahwa dirinya mencintai wanita itu. Namun ayahnya langsung melarang Sarif untuk mencintai wanita itu. Ayahnya hanya memperbolehkan ia dengan Mei. Marwan telah menjodohkan Sarif dengan Mei, dan menurut Marwan hanya Mei yang layak dengan Sarif. Namun Sarif mengelak keinginan ayahnya, sebab Sarif dengan Mei hanyalah sebtas teman. Ayahnya Men...

Resensi 4

X. Ibarat Semua Pertempuran (Hal. 125-132) Nur melangkah ke kamar sang ibudannya dan membawakan makanan kepada ibunya. Kemudian sang ibunda duduk di ranjang. Nur mmberikan makanan. Pada saat ibunya memakan makanan yang Nur berikan, ibu Nur nanya tentang kondisi Nur. Awalnya Nur bohong kepada ibunya , namun Nur tak dapat bohong kepada ibunya sebab ibunda dapat membaca pikiran seorang anaknya. Akhirnya Nur menceritakan keadaannya. Ibu bilang kepada Nnur bahwa didalam mata Nur ada kobaran api yang harus ia selesaikan. Ya api itu adalah Mei. Nur menceritakan tentang Sarif, kekasih baru Nur. Lalu ibunda bilang bahwa api yang dimiliki Nur harus dalam kendali nya, jangan memadamkan. Sebab api itu pertanda bahwa seseorang memiliki rasa takut kehilangan. kemudian mereka berpelukan sebagai tanda mereka saling menyanyangi. Lalu ibunda melihat biola, dan menanyakan kepada Nur " apakah Nur masih bermain biola?" . Nur terpaku, tak ada pilihan lagi selain berkata tidak. Sebab setelah ayah...

Resensi 3

VI . Impian (Hal. 69-82) Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Nur duduk di meja kecil yang berada di kamarnya. di meja itu pula tergeletak sebuah biola yang ia dapatkan dari ayahnya. Pada saat Nur mengangkat biola, ia mendapati sebuah amplop yang tak asing bagi Nur. Di bagian depan amplop tertuliskan "Schoolarship, Prelude International School. Jakarta". Nur ingat sekali bagaimana ia bisa mendapatkannya. Ia mengikuti tes sekolah musik yang diberitahukan oleh ayahnya.  Sekolah yang ia tuju berisikan orang-orang lulusan luar negeri. Ia sangat berusaha keras agar lolos audisi dan menerima beasiswa. Ia takut bahwa ia tidak akan lolos dalam audisi tersebut. Namun ayah, Joko, dan ibunya selalu memberikan support terbaik kepada Nur. Ayah Nur menjajikan sebuah biola yang ayahnya dapatkan dari Italia, ayahnya akan memberikan biola ketika Nur mendapatkan beasiswa itu. Saat Nur mendapatkan selembar amplop yang berisikan hasil dari audisi untuk mendapatkan beasiswa, hatinya berdebar k...

Resensi 2

III . Mawar Yang Mekar Sempurna (Hal.  29-37) Mei Anastasia adalah mahasiswi jurusan komunikasi di Universitas swasta Jakarta. Ia masuk pada tahun yang sama dengan Sarif. Mei juga berasal dari Pontianak. Sarif mengetahu hal itu dan hal lain mengenai diri Mei ketika bertemu untuk pertama kalinya pada saat usai menghadiri pemutaran film pendek di pusat kebudayaan Jerman Jakarta di daerah Menteng. Mereka memiliki hal yang sama mengenai buku-buku, musik , film, dan pandang-pandangan mengenai hidup. Pada saat di Jakarta Mei bisa dikatakan sebagai sahabat Sarif.  Saat Sarif di Pontianak  , Mei menelpon Sarif untuk menanyakan novel yang Mei berikan sebelum Sarif berangkat ke Pontianak. Namun Sarif tak terlalu menanggapi pertanyaan Mei karena Sarif sedang bersama Nur saat itu. Dan dengan jelas Sarif berkata bahwa dirinya sedang bersama teman lamanya, sehingga obrolan Mei dan Sarif harus dihentikan.   Pada pertemuan kesebelas Nur dengan Sarif, Sarif telah menyiapk...
Resensi Novel : Jika Aku Milikmu Identitas Peresensi: Nama: Nia Silva Komara Kelas: XI MIPA 7 Sekolah : SMA Al-Ma'soem Bandung  Identitas Buku: Judul Buku: Jika Aku Milikmu Penulis: Bernard Batubara Penerbit: Gagasmedia Jumlah Halaman: 258 halaman Tahun Terbit: 2015 ISBN: 978-979-780-839-6 Tanggal Baca: 18 Maret 2020 Judul bab yang dibaca: Fantaisie- Impromtu, Chopin, Desir-Desir ( hal 1- 26) Prolog (1-2)  Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk yakin bahwa dia benar-benar sedang jatuh cinta?   Pertanyaan itu selalu mengusik pikiran sarif beberapa bulan ini. Dan tampaknya pikiran itu semakin menguat dikala ia memandangi wajah gadis yang berada di hadapannya. Ia dan gadis tersebut berdiri di area luar pintu  keberangkatan Bandar Udara Supadio, Pontianak. Mereka bak patung yang hanya berdiam diri saling memandangi satu sama lain, mereka acuh terhadap orang-orang yang berkerumun disekitar mereka. Bandara adalah tempat ...